TEKNOLOGI INFORMASI
REVIEW JURNAL APLIKASI
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH PADA BUDIDAYA PERAIRAN
Disusun oleh:
NIM. 26010215120003
DEPARTEMEN
AKUAKULTUR
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Teknologi Informasi yang berjudul Review
Jurnal Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh pada
Budidaya Perairan ini sebagai syarat untuk memenuhi Ujian
Akhir Semester Genap.
Saya ingin
menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian Tugas Teknologi Informasi serta menyampaikan terima kasih kepada Restiana
Wisnu Ariyati, S.Pi., M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi
Informasi.
Saya menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih belum sempurna, oleh
karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Semarang, Desember
2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Sistem Informasi
Geografis (SIG) adalah sistem informasi yang berdasar pada data keruangan dan
merepresentasikan obyek di bumi. Dalam SIG sendiri teknologi informasi
merupakan perangkat yang membantu dalam menyimpan datas, memproses data,
menganalisa data, mengelola data dan menyajikan informasi. SIG merupakan sistem
yang terkomputerisasi yang menolong dalam me-maintain data tentang lingkungan
dalam bidang geografis (De Bay, 2002). SIG selalu memiliki relasi dengan
disiplin keilmuan Geografi, hal tersebut memiliki hubungan dengan disiplin yang
berkenaan dengan yang ada di permukaan bumi, termasuk didalamnya adalah
perencanaan dan arsitektur wilayah (Longley, 2001).
Data dalam SIG
terdiri atas dua komponen yaitu data spasial yang berhubungan dengan geometri
bentuk keruangan dan data attribute yang memberikan informasi tentang bentuk
keruangannya. Menurut pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, isi aktifitas
pada bidang SIG merupakan integrasi dari beragam bidang keilmuan yang
didasarkan pada peruntukan aktifitas SIG tersebut dilakukan. Implementasi dari
pelaksanaan kegiatan tersebut tidak selalu mengacu pada penyertaan komputer
sebagai salah satu elemen pada sistem informasi.
Penginderaan
jauh (inderaja) adalah pengukuran atau
akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak
secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau
akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain.
Penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh satelit
pada kegiatan budidaya perairan sangat berperan dalam menentukan lokasi yang
strategis dan sesuai untuk kegiatan budidaya. Peran lainnya adalah dapat
mengetahui faktor-faktor yang mendukung kegiatan budidaya, dimana faktor-faktor
tersebut dapat mengoptimalkan kegiatan budidaya yang akan dilakukan pada lokasi
yang telah ditentukan.
BAB II
PEMBAHASAN
Rumput laut merupakan sumber utama menghasilkan
agar-agar, alginate, dan karagenan yang dimanfaatkan dalan industri kosmetik, farmasi dan
industri lainnya (industri kertas, tekstil, fotografi,
pasta dan pengalengan ikan). Keunggulan dalam budidaya
rumput laut adalah penggunaan teknologi budidaya yang sederhana, harga jual yang
ekonomis peluang
pasar ekspor yang tinggi, penyerapan tenaga kerja yang tinggi, modal
yang diperlukan relatif kecil, periode pemeliharaan yang
singkat, produk olahan yang beragam, serta memiliki fungsi
produksi dan ekologis.
Menurut Rangka dan Paena (2012), daerah pesisir di Kabupaten Wakatobi pada
awal pengembangan budidaya belum mempertimbangkan kesesuaian lahan. Sehingga
produksi yang diperoleh saat ini masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan
mengingat selain lokasi lahan budidaya yang belum tergarap masih sangat luas
dan penentuan kesesuaian lahan tersebut belum ada.
Penelitian yang dilakukan oleh Rangka dan Paena dengan menggunakan SIG bertujuan untuk menghitung
potensi dan menentukan tingkat kesesuaian lahan budidaya rumput laut di
Kabupaten Wakatobi.
Penelitian dilakukan dengan
metode survei langsung ke lokasi penelitian untuk mengekstrak karakteristik
hidro-dinamika-oseanografi yang memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan rumput
laut. Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi lahan budidaya rumput laut
eksisting dilakukan dengan cara mengelilingi hamparan budidaya rumput laut
dengan menggunakan perahu motor sambil merekam posisinya dengan menggunakan Global Potisioning System (GPS), posisi
tercatat dengan format UTM (Universal
Transver Marcator). Posisi hasil perekaman di lapangan selanjutnya
dianalisis dengan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG). Masih dengan
analisis yang sama, dilakukan input data parameter kesesuaian lahan dalam SIG
dan akan dihasilkan peta kesesuaian lahan budidaya rumput laut di perairan sekitar Kabupaten Wakatobi.
Hasil penelitian yang didapatkan antara lain adalah nilai parameter
fisika yang meliputi kecerahan dana kedalaman, substrat dasar dan arus, suhu,
pH dan salinitas serta didapatkan pula nilai parameter kimia yang meliputi
kandungan oksigen terlarut dan bahan organik total, kandungan ammonia (NH3), nitrit dan nitrat serta kandungan logam dan mineral.
Berdasarkan analisis yang
dilakukan menunjukkan bahwa potensi areal pengembangan rumput laut di Kabupaten
Wakatobi mencapai 17,391.87 ha, sementara itu daerah tergarap masih sangat
rendah baru mencapai kurang lebih 1000 ha. Dengan demikian masih terdapat
kemungkinan untuk meningkatkan produksi. Kesesuaian lahan
yang didapatkan dari luas lahan 17,391.87 yang berpotensi untuk
dikembangkan menjadi areal budidaya rumput laut terdapat 9,858.62 ha yang
sesuai dan sisanya 7,533.25 ha tidak sesuai. Tidak sesuai tersebut lebih banyak
disebabkan oleh areal yang tersedia masuk dalam kawasan lindung.
Penerapan aplikasi sistem informasi geografis pada kegiatan budidaya
rumput laut juga dilakukan oleh Syofyan dkk. dalam penelitian yang dilakukan di perairan Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna pada tahun 2010.
Penelitian tersebut bertujuan untuk menentukan kesesuaian kawasan
perairan untuk keramba jaring tancap dan rumput
laut. Metode yang
digunakan adalah metode survei dengan cara mengukur faktor lingkungan perairan. Proses penentuan kesesuaian kawasan
tersebut dilakukan dengan
menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi tumpang susun adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan. Sedangkan
metode yang digunakan adalah weighted overlay. Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa
yang terintegrasi. Weighted
overlay memberikan pertimbangan
terhadap faktor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian.
Menurut Syofyan et al. (2010), hasil yang didapatkan pada penelitian yang telah
dilakukan adalah bahwa dominansi kesesuaian kawasan berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut dapat dikatakan bahwa hampir disepanjang garis pantai Pulau Bunguran dapat dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut seperti keramba jaring tancap maupun budidaya rumput laut.
Penelitian lain juga dilakukan oleh
Selamat dkk. pada tahun 2015 yang menerapkan aplikasi SIG pada kegiatan
budidaya rumput laut di Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian tersebut memiliki tujuan yaitu
untuk mengevaluasi
status kesesuaian, luas potensial dan pola penggunaan ruang budidaya rumput laut
di perairan Pantai Amal, Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah penggunaan teknologi penginderaan jauh satelit,
sistem informasi geografi (SIG) dan survei lapangan. Citra
landsat 8 OLI digunakan untuk mendapatkan gambaran sinoptik kawasan
budidaya eksisting. Citra satelit ini dan data kualitas air yang diperoleh dari
survei lapangan, kemudian di integrasikan ke dalam basisdata spasial pada sistem
informasi geografis.
Pengenalan
objek pada citra dilakukan dengan membandingkan sidik spektral dan tekstur
permukaan yang terlihat pada citra.
Hasil penelitian yang didapatkan adalah pengamatan lapangan yang terdiri
dari data kualitas kesesuaian lingkungan pada lokasi yang telah ditentukan,
prediksi spasial kualitas air bahwa kawasan tersebut dangkal dan landai dengan
perkecualian di sebelah tenggara dimana ditemukan daerah yang kedalamannya
lebih dari 10 meter. Sebaran budidaya rumput laut eksisting pada citra Landsat 8 OLI, memperlihatkan bahwa nilai
pantulan spektralnya lebih tinggi daripada air laut yang relatif jernih namun
lebih rendah daripada air laut yang memiliki padatan tersuspensi yang tinggi. Status pemanfaatan ruang untuk budidaya rumput laut pada spot-spot budidaya rumput laut eksisting berdasarkan analisa
tekstur citra landsat berjumlah kurang lebih 1.982 petak, memanfaatkan ruang seluas
6.203 hektar atau 58,9% dari total potensi. Analisis spasial dengan metode
matching memperlihatkan bahwa dari ruang perairan yang
termanfaatkan itu, terdapat sekitar 5.177 hektar (atau 59%) lokasi budidaya
yang masuk ke dalam kawasan dengan kategori sesuai dan 1.026 hektar berada di
kawasan yang tidak sesuai.
Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian tersebut adalah total luasan potensial
perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut di pantai Timur Kota Tarakan diestimasi mencapai
8.796 hektar. Luas perairan yang masih bisa
di manfaatkan adalah sekitar 41%. Berdasarkan
analisa citra ruang budidaya saat
ini adalah 6.203 hektar atau 58,9% dari total potensi.
Penelitian lain dalam aplikasi SIG
dan penginderaan jauh pada budidaya rumput laut dilakukan di Perairan
Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Menurut
Ratnasari et al. (2014), penelitian
tersebut bertujuan
untuk menentukan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa
Tenggara Barat menggunakan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dari hasil penelitian tersebut diharapkan kesesuaian
lokasi budidaya rumput laut khususnya di wilayah tersebut dan umumnya di perairan Lombok secara
keseluruhan, serta menjadi masukan bagi pembudidaya rumput laut sebagai bahan
pertimbangan dalam memilih lokasi
budidaya rumput laut yang tepat.
Metode yang digunakan dalam
penelitian tersebut adalah dengan metode long line berdasarkan informasi
penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Citra satelit yang digunakan
adalah Citra Landsat 8. Data yang diperoleh adalah parameter fisik perairan
laut, meliputi suhu permukaan laut, muatan padatan tersuspensi serta
keterlindungan. Tahap
awal pengolahan data satelit penginderaan jauh dilakukan proses koreksi berupa
koreksi geometrik dan radiometrik. Koreksi geometrik dilakukan untuk
menyamakan posisi pada citra dengan posisi pada bumi menggunakan acuan peta rupa bumi.
Koreksi radiometrik dilakukan dengan menggunakan nilai digital
menjadi nilai radiansi atau reflektansi yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahan sudut elevasi
matahari dan jarak matahari bumi pada data yang berlainan waktu, serta dilakukannya koreksi
atmosferik akibat serapan dan pantulan yang dilakukan oleh partikel di
atmosfer. Pengolahan awal SIG ini adalah dengan dilakukannya pembuatan
peta tematik menggunakan software ArcView GIS 3.2. Peta tematik ini kemudian di tumpang
susun (overlay) dan ditentukan kesesuaiannya.
Hasil dari pengolahan citra
satelit Landsat 8 dan pengolahan SIG serta hasil survei lapangan diperoleh bahwa lokasi yang
tidak memiliki faktor pembatas dan hambatan tidak mengurangi produktivitas memiliki luas
sebesar 342.44 ha, sedangkan lokasi yang memiliki faktor pembatas yang dapat mengurangi tingkat
produksi sebesar 190.78 ha, dan lokasi yang memiliki faktor pembatas yang permanen sebesar 669.32 ha.
Berdasarkan hasil keempat penelitian yang telah dilakukan, penerapan
atau aplikasi penggunaan Sistem Informasi Geografis dan penginderaan jauh pada
budidaya rumput laut di wilayah yang berbeda memiliki tujuan serta kesimpulan
yang sama, yaitu dengan penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh dapat
menentukan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut. Metode yang
digunakan dalam keempat penelitian tersebut diantaranya dengan metode survei,
longline, serta dalam pengolahan data menggunakan Citra Landsat 8. Penggunaan
SIG dan penginderaan jauh diperoleh data parameter fisik perairan laut,
parameter kimia dan parameter lainnya, dengan demikian lokasi budidaya yang
sesuai dapat diketahui.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari dkk. pada tahun 2014
menggunakan metode yang lebih terperinci dibandingkan dari hasil dari ketiga
penelitian lainnya. Mempermudah bagi para pembudidaya atau para peneliti
lainnya dalam mempelajari penggunaan SIG dan penginderaan jauh untuk kegiatan
budidaya yang akan dilakukan. Diperlukannya akurasi dalam pemilihan lokasi yang
sesuai untuk mengoptimalkan hasil budidaya pada perairan laut. Penentuan lokasi
sangatlah penting dikarenakan keadaan lingkungan disekitar lokasi yang telah
ditentukan merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam sistem budidaya.
Kabupaten yang terdapat
di propinsi Kepulauan Riau dengan wilayah pesisir yang cukup luas adalah
Kabupaten Natuna. Beberapa komponen masyarakat yang tinggal dan berdomisili di
wilayah Kabupaten Natuna menggantungkan hidupnya dengan melakukan aktifitas di
bidang perikanan, baik itu penangkapan maupun budidaya. perkembangan usaha
Keramba Jaring Tancap cukup signifikan ditengah masyarakat. Aktivitas yang
dilakukan di wilayah pesisir haruslah sesuai dengan daya dukung lingkungan
wilayah pesisir tersebut. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut
dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG.
Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam
prosesnya operasi tumpang susun adalah adalah suatu proses penyatuan data
spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam
analisa keruangan.
Weighted overlay
merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk
membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi.
Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap factor atau kriteria yang
ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian. Hasil rekaman yang
tergambar kawasan ini banyak mendapat gangguan atmosfir baik awan maupun kabut.
Sehingga mengganggu dalam proses interpretasi dan analisa kawasan. Hasil
analisa menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak
dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada
kelas sangat sesuai dan sesuai. Sementara beberapa kawasan (sangat kecil
sekali) berada pada kelas tidak sesuai. Hal ini diakibakan karena hasil
interpolasi kedalaman yang menggeneralisasi kedalaman perairan pada sekitar
pulau-pulau tersebut. Perairan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT
dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar
merata diperairannya. Kelas tidak sesuai hanya berada pada sekitar pulaupulau kecil
yang berada dalam naungan administrasi ketidaksesuaian disebabkan oleh fakctor
kedalaman yang menjadi pembatas kesesuaian karena memiliki pengaruh yang paling
besar diantara factor-faktor lainnya.
Analisa spasial kawasan
dengan menggunakan metode weighte overlay memberikan hasil bahwa dominansi
kesesuai kawasan untuk kegiatan KJT dan rumput laut berada pada kelas sesuai
yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak
sesuai sebesar 19,5%. Hasil analisa menunjukkan sebagian besar perairan di
keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena
kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Kelas tidak sesuai
dapat ditemukan disepanjang garis pantai pada beberapa pulau kecil. Hasil
analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau
Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian
Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat)
merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput
laut.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan hasil review jurnal mengenai
penerapan Sistem Informasi Geografis dan penginderaan jauh pada kegiatan
budidaya perairan adalah penggunaan SIG dan penginderaan jauh berfungsi untuk
menentukan lokasi yang sesuai pada kegiatan budidaya perairan. Pengolahan data
yang digunakan para peneliti menggunakan citra satelit diantaranya Citra
Landsat 8. Hasil yang diperoleh pada keempat penelitian tersebut diantaranya
yaitu didapatkan data berupa parameter fisik perairan, parameter kimia serta
kesesuaian lokasi untuk budidaya khususnya budidaya rumput laut. Penggunaan SIG
dan penginderaan jauh pada masyarakat budidaya dapat mengoptimalkan pemanfaatan
wilayah perairan yang ada disekitarnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Rangka, N. A. dan M. Paena. 2012. Potensi dan
Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) di Sekitar Perairan
Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal
Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 4(2): 151- 159.
Ratnasari, A., K. Nirmala, S. Budhiman, Emiyati dan B. Hasyim. 2014. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk Penentuan Lokasi
Budidaya
Rumput Laut di Perairan Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Seminar
Nasional Penginderaan Jauh.
Selamat, M. B., M. F. Samawi, Zainuddin dan A. Massinai. 2015. Aplikasi Sistem
Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh Satelit untuk
Evaluasi Pemanfaatan Ruang Budidaya Rumput Laut di Pantai
Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan
Perikanan II Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Syofyan, I., R. Jhonerie dan Y. I. Siregar. 2010. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam Penentuan Kesesuaian Kawasan Keramba Jaring Tancap dan Rumput
Laut di Perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna. Jurnal Perikanan dan
Kelautan. 15(2): 111-120.