Selasa, 06 Desember 2016

Review Jurnal Tugas Teknologi Informasi

TEKNOLOGI INFORMASI
REVIEW JURNAL APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PENGINDERAAN JAUH PADA BUDIDAYA PERAIRAN











Disusun oleh:
BAGUS NUGROHO ANDRIADI
NIM. 26010215120003




DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Teknologi Informasi yang berjudul Review Jurnal Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh pada Budidaya Perairan ini sebagai syarat untuk memenuhi Ujian Akhir Semester Genap.
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Teknologi Informasi serta menyampaikan terima kasih kepada Restiana Wisnu Ariyati, S.Pi., M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Informasi.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

                                                                       
                                                                                            Semarang,  Desember  2016

                                                                                         Penyusun









BAB I
PENDAHULUAN

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi yang berdasar pada data keruangan dan merepresentasikan obyek di bumi. Dalam SIG sendiri teknologi informasi merupakan perangkat yang membantu dalam menyimpan datas, memproses data, menganalisa data, mengelola data dan menyajikan informasi. SIG merupakan sistem yang terkomputerisasi yang menolong dalam me-maintain data tentang lingkungan dalam bidang geografis (De Bay, 2002). SIG selalu memiliki relasi dengan disiplin keilmuan Geografi, hal tersebut memiliki hubungan dengan disiplin yang berkenaan dengan yang ada di permukaan bumi, termasuk didalamnya adalah perencanaan dan arsitektur wilayah (Longley, 2001).http://osgeo.ft.ugm.ac.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif
Data dalam SIG terdiri atas dua komponen yaitu data spasial yang berhubungan dengan geometri bentuk keruangan dan data attribute yang memberikan informasi tentang bentuk keruangannya. Menurut pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, isi aktifitas pada bidang SIG merupakan integrasi dari beragam bidang keilmuan yang didasarkan pada peruntukan aktifitas SIG tersebut dilakukan. Implementasi dari pelaksanaan kegiatan tersebut tidak selalu mengacu pada penyertaan komputer sebagai salah satu elemen pada sistem informasi.
Penginderaan jauh (inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain.
Penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh satelit pada kegiatan budidaya perairan sangat berperan dalam menentukan lokasi yang strategis dan sesuai untuk kegiatan budidaya. Peran lainnya adalah dapat mengetahui faktor-faktor yang mendukung kegiatan budidaya, dimana faktor-faktor tersebut dapat mengoptimalkan kegiatan budidaya yang akan dilakukan pada lokasi yang telah ditentukan.

BAB II
PEMBAHASAN

Rumput laut merupakan sumber utama menghasilkan agar-agar, alginate, dan karagenan yang dimanfaatkan dalan industri kosmetik, farmasi dan industri lainnya (industri kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengalengan ikan). Keunggulan dalam budidaya rumput laut adalah penggunaan teknologi budidaya yang sederhana, harga jual yang ekonomis peluang pasar ekspor yang tinggi, penyerapan tenaga kerja yang tinggi, modal yang diperlukan relatif kecil, periode pemeliharaan yang singkat, produk olahan yang beragam, serta memiliki fungsi produksi dan ekologis.
Menurut Rangka dan Paena (2012), daerah pesisir di Kabupaten Wakatobi pada awal pengembangan budidaya belum mempertimbangkan kesesuaian lahan. Sehingga produksi yang diperoleh saat ini masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan mengingat selain lokasi lahan budidaya yang belum tergarap masih sangat luas dan penentuan kesesuaian lahan tersebut belum ada. Penelitian yang dilakukan oleh Rangka dan Paena dengan menggunakan SIG bertujuan untuk menghitung potensi dan menentukan tingkat kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Wakatobi.
Penelitian dilakukan dengan metode survei langsung ke lokasi penelitian untuk mengekstrak karakteristik hidro-dinamika-oseanografi yang memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan rumput laut. Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi lahan budidaya rumput laut eksisting dilakukan dengan cara mengelilingi hamparan budidaya rumput laut dengan menggunakan perahu motor sambil merekam posisinya dengan menggunakan Global Potisioning System (GPS), posisi tercatat dengan format UTM (Universal Transver Marcator). Posisi hasil perekaman di lapangan selanjutnya dianalisis dengan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG). Masih dengan analisis yang sama, dilakukan input data parameter kesesuaian lahan dalam SIG dan akan dihasilkan peta kesesuaian lahan budidaya rumput laut di perairan sekitar Kabupaten Wakatobi.
Hasil penelitian yang didapatkan antara lain adalah nilai parameter fisika yang meliputi kecerahan dana kedalaman, substrat dasar dan arus, suhu, pH dan salinitas serta didapatkan pula nilai parameter kimia yang meliputi kandungan oksigen terlarut dan bahan organik total, kandungan ammonia (NH3), nitrit dan nitrat serta kandungan logam dan mineral.
Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa potensi areal pengembangan rumput laut di Kabupaten Wakatobi mencapai 17,391.87 ha, sementara itu daerah tergarap masih sangat rendah baru mencapai kurang lebih 1000 ha. Dengan demikian masih terdapat kemungkinan untuk meningkatkan produksi. Kesesuaian lahan yang didapatkan dari luas lahan 17,391.87 yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi areal budidaya rumput laut terdapat 9,858.62 ha yang sesuai dan sisanya 7,533.25 ha tidak sesuai. Tidak sesuai tersebut lebih banyak disebabkan oleh areal yang tersedia masuk dalam kawasan lindung.
Penerapan aplikasi sistem informasi geografis pada kegiatan budidaya rumput laut juga dilakukan oleh Syofyan dkk. dalam penelitian yang dilakukan di perairan Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna pada tahun 2010. Penelitian tersebut bertujuan untuk menentukan kesesuaian kawasan perairan untuk keramba jaring tancap dan rumput laut. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan cara mengukur faktor lingkungan perairan. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi tumpang susun adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan. Sedangkan metode yang digunakan adalah weighted overlay. Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi. Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap faktor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian.
Menurut Syofyan et al. (2010), hasil yang didapatkan pada penelitian yang telah dilakukan adalah bahwa dominansi kesesuaian kawasan berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa hampir disepanjang garis pantai Pulau Bunguran dapat dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut seperti keramba jaring tancap maupun budidaya rumput laut.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Selamat dkk. pada tahun 2015 yang menerapkan aplikasi SIG pada kegiatan budidaya rumput laut di Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian tersebut memiliki tujuan yaitu untuk mengevaluasi status kesesuaian, luas potensial dan pola penggunaan ruang budidaya rumput laut di perairan Pantai Amal, Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah penggunaan teknologi penginderaan jauh satelit, sistem informasi geografi (SIG) dan survei lapangan. Citra landsat 8 OLI digunakan untuk mendapatkan gambaran sinoptik kawasan budidaya eksisting. Citra satelit ini dan data kualitas air yang diperoleh dari survei lapangan, kemudian di integrasikan ke dalam basisdata spasial pada sistem informasi geografis.  Pengenalan objek pada citra dilakukan dengan membandingkan sidik spektral dan tekstur permukaan yang terlihat pada citra.
Hasil penelitian yang didapatkan adalah pengamatan lapangan yang terdiri dari data kualitas kesesuaian lingkungan pada lokasi yang telah ditentukan, prediksi spasial kualitas air bahwa kawasan tersebut dangkal dan landai dengan perkecualian di sebelah tenggara dimana ditemukan daerah yang kedalamannya lebih dari 10 meter. Sebaran budidaya rumput laut eksisting pada citra Landsat 8 OLI, memperlihatkan bahwa nilai pantulan spektralnya lebih tinggi daripada air laut yang relatif jernih namun lebih rendah daripada air laut yang memiliki padatan tersuspensi yang tinggi. Status pemanfaatan ruang untuk budidaya rumput laut pada spot-spot budidaya rumput laut eksisting berdasarkan analisa tekstur citra landsat berjumlah kurang lebih 1.982 petak, memanfaatkan ruang seluas 6.203 hektar atau 58,9% dari total potensi. Analisis spasial dengan metode matching memperlihatkan bahwa dari ruang perairan yang termanfaatkan itu, terdapat sekitar 5.177 hektar (atau 59%) lokasi budidaya yang masuk ke dalam kawasan dengan kategori sesuai dan 1.026 hektar berada di kawasan yang tidak sesuai.
Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian tersebut adalah total luasan potensial perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut di pantai Timur Kota Tarakan diestimasi mencapai 8.796 hektar. Luas perairan yang masih bisa di manfaatkan adalah sekitar 41%. Berdasarkan analisa citra ruang budidaya saat ini adalah 6.203 hektar atau 58,9% dari total potensi.
Penelitian lain dalam aplikasi SIG dan penginderaan jauh pada budidaya rumput laut dilakukan di Perairan Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurut Ratnasari et al. (2014), penelitian tersebut bertujuan untuk menentukan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat menggunakan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dari hasil penelitian tersebut diharapkan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut khususnya di wilayah tersebut dan umumnya di perairan Lombok secara keseluruhan, serta menjadi masukan bagi pembudidaya rumput laut sebagai bahan pertimbangan dalam memilih lokasi budidaya rumput laut yang tepat.
Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah dengan metode long line berdasarkan informasi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Citra satelit yang digunakan adalah Citra Landsat 8. Data yang diperoleh adalah parameter fisik perairan laut, meliputi suhu permukaan laut, muatan padatan tersuspensi serta keterlindungan. Tahap awal pengolahan data satelit penginderaan jauh dilakukan proses koreksi berupa koreksi geometrik dan radiometrik. Koreksi geometrik dilakukan untuk menyamakan posisi pada citra dengan posisi pada bumi menggunakan acuan peta rupa bumi. Koreksi radiometrik dilakukan dengan menggunakan nilai digital menjadi nilai radiansi atau reflektansi yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahan sudut elevasi matahari dan jarak matahari bumi pada data yang berlainan waktu, serta dilakukannya koreksi atmosferik akibat serapan dan pantulan yang dilakukan oleh partikel di atmosfer. Pengolahan awal SIG ini adalah dengan dilakukannya pembuatan peta tematik menggunakan software ArcView GIS 3.2. Peta tematik ini kemudian di tumpang susun (overlay) dan ditentukan kesesuaiannya.
Hasil dari pengolahan citra satelit Landsat 8 dan pengolahan SIG serta hasil survei lapangan diperoleh bahwa lokasi yang tidak memiliki faktor pembatas dan hambatan tidak mengurangi produktivitas memiliki luas sebesar 342.44 ha, sedangkan lokasi yang memiliki faktor pembatas yang dapat mengurangi tingkat produksi sebesar 190.78 ha, dan lokasi yang memiliki faktor pembatas yang permanen sebesar 669.32 ha.
Berdasarkan hasil keempat penelitian yang telah dilakukan, penerapan atau aplikasi penggunaan Sistem Informasi Geografis dan penginderaan jauh pada budidaya rumput laut di wilayah yang berbeda memiliki tujuan serta kesimpulan yang sama, yaitu dengan penggunaan teknologi SIG dan penginderaan jauh dapat menentukan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut. Metode yang digunakan dalam keempat penelitian tersebut diantaranya dengan metode survei, longline, serta dalam pengolahan data menggunakan Citra Landsat 8. Penggunaan SIG dan penginderaan jauh diperoleh data parameter fisik perairan laut, parameter kimia dan parameter lainnya, dengan demikian lokasi budidaya yang sesuai dapat diketahui.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari dkk. pada tahun 2014 menggunakan metode yang lebih terperinci dibandingkan dari hasil dari ketiga penelitian lainnya. Mempermudah bagi para pembudidaya atau para peneliti lainnya dalam mempelajari penggunaan SIG dan penginderaan jauh untuk kegiatan budidaya yang akan dilakukan. Diperlukannya akurasi dalam pemilihan lokasi yang sesuai untuk mengoptimalkan hasil budidaya pada perairan laut. Penentuan lokasi sangatlah penting dikarenakan keadaan lingkungan disekitar lokasi yang telah ditentukan merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam sistem budidaya.
Kabupaten yang terdapat di propinsi Kepulauan Riau dengan wilayah pesisir yang cukup luas adalah Kabupaten Natuna. Beberapa komponen masyarakat yang tinggal dan berdomisili di wilayah Kabupaten Natuna menggantungkan hidupnya dengan melakukan aktifitas di bidang perikanan, baik itu penangkapan maupun budidaya. perkembangan usaha Keramba Jaring Tancap cukup signifikan ditengah masyarakat. Aktivitas yang dilakukan di wilayah pesisir haruslah sesuai dengan daya dukung lingkungan wilayah pesisir tersebut. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi tumpang susun adalah adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan.
Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi. Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap factor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian. Hasil rekaman yang tergambar kawasan ini banyak mendapat gangguan atmosfir baik awan maupun kabut. Sehingga mengganggu dalam proses interpretasi dan analisa kawasan. Hasil analisa menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Sementara beberapa kawasan (sangat kecil sekali) berada pada kelas tidak sesuai. Hal ini diakibakan karena hasil interpolasi kedalaman yang menggeneralisasi kedalaman perairan pada sekitar pulau-pulau tersebut. Perairan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata diperairannya. Kelas tidak sesuai hanya berada pada sekitar pulaupulau kecil yang berada dalam naungan administrasi ketidaksesuaian disebabkan oleh fakctor kedalaman yang menjadi pembatas kesesuaian karena memiliki pengaruh yang paling besar diantara factor-faktor lainnya.
Analisa spasial kawasan dengan menggunakan metode weighte overlay memberikan hasil bahwa dominansi kesesuai kawasan untuk kegiatan KJT dan rumput laut berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%. Hasil analisa menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai pada beberapa pulau kecil. Hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut.











BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan hasil review jurnal mengenai penerapan Sistem Informasi Geografis dan penginderaan jauh pada kegiatan budidaya perairan adalah penggunaan SIG dan penginderaan jauh berfungsi untuk menentukan lokasi yang sesuai pada kegiatan budidaya perairan. Pengolahan data yang digunakan para peneliti menggunakan citra satelit diantaranya Citra Landsat 8. Hasil yang diperoleh pada keempat penelitian tersebut diantaranya yaitu didapatkan data berupa parameter fisik perairan, parameter kimia serta kesesuaian lokasi untuk budidaya khususnya budidaya rumput laut. Penggunaan SIG dan penginderaan jauh pada masyarakat budidaya dapat mengoptimalkan pemanfaatan wilayah perairan yang ada disekitarnya.



















DAFTAR PUSTAKA


Rangka, N. A. dan M. Paena. 2012. Potensi dan Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) di Sekitar Perairan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 4(2): 151- 159.

Ratnasari, A., K. Nirmala, S. Budhiman, Emiyati dan B. Hasyim. 2014. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi Budidaya Rumput Laut di Perairan Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Seminar Nasional Penginderaan Jauh.

Selamat, M. B., M. F. Samawi, Zainuddin dan A. Massinai. 2015. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh Satelit untuk Evaluasi Pemanfaatan Ruang Budidaya Rumput Laut di Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan II Universitas Hasanuddin, Makassar.


Syofyan, I., R. Jhonerie dan Y. I. Siregar. 2010. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam Penentuan Kesesuaian Kawasan Keramba Jaring Tancap dan Rumput Laut di Perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 15(2): 111-120.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar